News Ticker

Menu
Diberdayakan oleh Blogger.

Browsing "Older Posts"

Browsing Category "sejarah"

pengorbanan seorang guru

Rabu, 13 Mei 2015 / No Comments

Guru pahlawan tanpa tanda jasa

 

 Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Karena sebesar apapun jasanya tidak ada tanda jasa yang ia ( guru ) terima. Tidak ada pangkat bintang 1, bintang 2 ataupun bintang-bintang yang lain. Guru adalah yang mengajarkan kita semua menulis dan membaca. Saya bisa menulis artikel saat inipun adalah karena jasa guru yang dengan telaten memberikan cara menulis kepada saya dan juga mengajarkan cara membaca untuk saya. Saya ingat betul bagaimana guru datang dengan aktif, datang dengan hanya mengendarai sebuah sepeda pedal ke sekolah. Bahkan tidak jarang, kehujanan di tengah jalan dan saya lihat baju guru basah kuyup. Saya dan teman-teman hanya melihat tanpa perasaan apapun, karena waktu itu kita masih anak-anak. Tidak kenal dan tidak paham betapa susahnya guru waktu itu. Tidak paham bahwa guru kita benar-benar berkorban untuk memberikan kita pengetahuan. Guru adalah soko guru bangsa ini. Tanpa guru apa artinya sebuah bangsa. Sebesar apapun bangsa itu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati gurunya.
  Karena gurulah saya, anda dan kita semua bisa menjadi seperti sekarang. Ada yang menjadi pedagang. Pedagang pasti akan selalu berkutat dengan dunia hitung menghitung. Jadi ingatlah guru Matematika. Merekalah yang mengajarkan anda bagaimana menjumlah, mengalikan, membagi, mengurangkan dan lain-lain. Maka karena perhitungan yang tepat di dalam berdagang, maka anda bisa untung. Kemudian, ada yang menjadi blogger, seperti kita-kita ini. Apa yang patut diingat dari guru dengan menjadi blogger? Dunia blogger pasti tidak akan terlepas dari 2 aktivitas. Menulis dan membaca. Tidak ingatkah kita bahwa kita bisa membaca dan menulis karena jasa guru? Waktu itu ketika SMP atau MTS guru kita denga telaten mengajarkan bagaimana langkah-langka menulis dan membaca. Hingga akhirnya kita bisa membaca dan juga bisa menulis. Jadi apapun kita, petani, pedagang, pengusaha, kyai, ulama, pejabat mulai kepala desa hingga kepala negara, semua pasti tidak akan terlepas dari jasa guru yang memberinya pengetahuan.

sejarah pondok pesantren sunan drajat

/ No Comments

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Sunan Drajat

Pondok Pesantren Sunan Drajat adalah salah satu pondok pesantren yang memiliki nilai historis yang amat panjang karena keberadaan pesantren ini tak lepas dari nama yang disandangnya, yakni Sunan Drajat. Sunan Drajat adalah julukan dari Raden Qosim putra kedua pasangan Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) dengan Nyi Ageng Manila (Putri Adipati Tuban Arya Teja). Dia juga memiliki nama Syarifuddin atau Masih Ma’unat.
Perjuangan Sunan Drajat di Banjaranyar dimulai tatkala dia diutus ayahandanya untuk membantu perjuangan Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu guna mengembangkan syiar Islam didaerah pesisir pantai utara Kabupaten Lamongan saat ini.
Pada tahun 1440-an ada seorang pelaut muslim asal Banjar yang mengalami musibah di pesisir pantai utara, kapal yang ditumpanginya pecah terbentur karang dan karam di laut. Adapun Sang Pelaut Banjar terdampar di tepian pantai Jelaq dan ditolong oleh Mbah Mayang Madu penguasa kampung Jelaq pada saat itu.
Melihat kondisi masyarakat Jelaq yang telah terseret sedemikian jauh dalam kesesatan, Sang Pelaut muslim itu pun terketuk hatinya untuk menegakkan sendi-sendi agama Allah. Dia pun mulai berdakwah dan mensyiarkan ajaran Islam kepada penduduk Jelaq dan sekitarnya. Lambat-laun perjuangan Sang Pelaut yang kemudian hari lebih dikenal dengan Mbah Banjar, mulai membuahkan hasil. Apa lagi bersamaan dengan itu Mbah Mayang Madu pun turut menyatakan diri masuk Islam dan menjadi penyokong utama perjuangan Mbah Banjar.
ada suatu hari, Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu berkeinginan untuk mendirikan tempat pengajaran dan pendidikan agama agar syiar Islam semakin berkembang, namun mereka menemui kendala dikarenakan masih kurangnya tenaga edukatif yang mumpuni di bidang ilmu diniyah. Akhirnya mereka pun sepakat untuk sowan menghadap Kanjeng Sunan Ampel di Ampeldenta Surabaya. Gayung pun bersambut Kanjeng Sunan Ampel memberikan restu dengan mengutus putranya Raden Qosim untuk turut serta membantu perjuangan kedua tokoh tersebut. Akhirnya Raden Qosim mendirikan Pondok Pesantren di suatu petak tanah yang terletak di areal Pondok Pesantren putri Sunan Drajat saat ini.
Dia pun mengatakan bahwa barang siapa yang mau belajar mendalami ilmu agama di tempat tersebut, semoga Allah menjadikannya manusia yang memiliki derajat luhur. Karena do’a Raden Qosim inilah para pencari ilmu pun berbondong-bondong belajar di tempat dia dan Raden Qosim pun mendapat gelar Sunan Drajat. Sementara itu untuk mengenang perjuangan Mbah Banjar, maka dusun yang sebelumnya bernama kampung Jelaq, dirubah namanya menjadi Banjaranyar untuk mengabadikan nama Mbah Banjar dan anyar sebagai suasana baru di bawah sinar petunjuk Islam.
Sunan Drajat yang merupakan putra sunan ampel menjadi tokoh sentral dalam penyebaran agama Islam yang ada di wilayah Lamongan. Raden Qosim atau Sunan Drajat mendirikan pondok pesantren di suatu petak tanah, terletak di areal Pondok Pesantren Putri Sunan Drajat saat ini. Dia pun mengatakan bahwa barang siapa yang mau belajar mendalami ilmu agama di tempat tersebut, semoga Allah menjadikannya manusia yang memiliki derajat luhur. Karena do’a Raden Qosim inilah para pencari ilmu pun berbondong-bondong belajar di tempat dia dan Raden Qosim pun mendapat gelar Sunan Drajat.
Setelah beberapa lama dia berdakwah di Banjaranyar, maka Raden Qosim mengembangkan daerah dakwahnya dengan mendirikan masjid dan pondok pesantren yang baru di kampung Sentono. Dia berjuang hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di belakang masjid tersebut. Kampung di mana dia mendirikan masjid dan pondok pesantren itu akhirnya dinamakan pula sebagai Desa Drajat. Sepeninggalan Sunan Drajat, tongkat estafet perjuangan dilanjutkan oleh anak cucu dia. Namun seiring dengan perjalanan waktu yang cukup panjang kebesaran nama Pondok Pesantren Sunan Drajat pun semakin pudar dan akhirnya lenyap ditelan masa. Saat itu hanyalah tinggal sumur tua yang tertimbun tanah dan pondasi bekas langgar yang tersisa. Kemaksiatan dan perjudian merajalela di sekitar wilayah Banjaranyar dan sekitarnya, bahkan areal di mana Raden Qosim mendirikan Pondok Pesantren di Banjaranyar saat itu berubah menjadi tempat pemujaan.
Setelah mengalami proses kemunduran, bahkan sempat menghilang dari percaturan dunia Islam di Pulau Jawa, pada akhirnya Pondok Pesantren Sunan Drajat kembali menata diri dan menatap masa depannya dengan rasa optimis dan tekat yang kuat. Hal ini bermula dari upaya yang dilakukan oleh anak cucu Sunan Drajat yang bercita-cita untuk melanjutkan perjuangan Sunan Drajat di Banjaranyar. Keadaan itu pun berangsur-angsur pulih kembali saat di tempat yang sama didirikan Pondok Pesantren Sunan Drajat oleh KH. Abdul Ghofur yang masih termasuk salah seorang keturunan Sunan Drajat pada tahun 1977 yang bertujuan untuk melanjutkan perjuangan wali songo dalam mengagungkan syiar agama Allah di muka bumi.
Munculnya kembali Pondok Pesantren Sunan Drajat saat ini tentu tidak terlepas dari perjalanan panjang dan perjuangan anak cucu Sunan Drajat itu sendiri. Sebagai institusi resmi dan legal, Pondok Pesantren Sunan Drajat tentu memiliki persamaan dan perbedaan dengan cikal bakal berdirinya pondok pesantren itu sendiri.
Di sisi lain di dalam Pondok Pesantren Sunan Drajat terdapat pendidikan yang terdiri dari pendidikan formal, non formal dan in formal. Sebagaimana kita ketahui bahwa tidak semua pondok pesantren memiliki pendidikan yang mengajarkan tentang pengetahuan dan keahlian/skill secara intensif terhadap santrinya. Dengan demikian sangat penting bagi seorang akademisi untuk mempelajari kembali ide-ide dasar yang muncul dan menyertai perkembangan Pondok Pesantren Sunan Drajat.

larangan hari valentine

/ No Comments

6 Kerusakan Hari Valentine

 

Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.

Cikal Bakal Hari Valentine

Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).
Versi lainnya menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)
Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:
  1. Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
  2. Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
  3. Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
  4. Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.
Sungguh ironis memang kondisi umat Islam saat ini. Sebagian orang mungkin sudah mengetahui kenyataan sejarah di atas. Seolah-olah mereka menutup mata dan menyatakan boleh-boleh saja merayakan hari valentine yang cikal bakal sebenarnya adalah ritual paganisme. Sudah sepatutnya kaum muslimin berpikir, tidak sepantasnya mereka merayakan hari tersebut setelah jelas-jelas nyata bahwa ritual valentine adalah ritual non muslim bahkan bermula dari ritual paganisme.

Sejarah SMK

/ No Comments
Sejarah SMK Sunan Drajat Lamongan



Bermula dari keinginan tinggi pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat DR. KH. Abdul Ghofur yang bermaksud mencetak kader profesional yang siap kerja dan ahli disegala bidang, maka Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat mendirikan STM NU 1 Paciran, SMEA NU 2 Paciran dan SUPM. STM NU 1 Paciran didirikan untuk mendidik siswa yang ahli dalam bidang Teknik, SMEA NU 2 Paciran fokus mendidik siswa dibidang Ekonomi, sedangkan SUPM mendidik siswa dibidang Kelautan.




Tahun 1997, berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, STM NU 1 Paciran, SMEA NU 2 Paciran dan SUPM berganti nama menjadi SMK NU 1 Paciran, SMK NU 2 Paciran dan SMK Kelautan Sunan Drajat. Ketiga Sekolah tersebut berjalan sangat baik dibawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat.
Tahun 2008 muncul gagasan baru, SMK NU 1 Paciran, SMK NU 2 Paciran dan SMK Kelutan Sunan Drajat diupayakan untuk bergabung menjadi satu sekolah dengan alasan ketiga sekolah tersebut berada dalam satu yayasan, maka dibentuklan Tim Merger untuk mengawal penggabungan (merger) tiga sekolah menjadi satu sekolah yang dalam kesepakatan selanjutnya Sekolah Baru hasil penggabungan tersebut diberi nama SMK Sunan Drajat Lamongan. Hingga pada tahun 2011 sesuai dengan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan Nomor: 420/4789/413.101/2011 keluar izin operasonal SMK Sunan Drajat Lamongan dengan 14 Kompetensi Keahlian yaitu:
  • Teknik Elektronika Industri
  • Teknik Pemmesinan
  • Teknik Kendaraan Ringan
  • Teknik Sepeda Motor
  • Teknik Komputer dan Jaringan
  • Multimedia
  • Animasi
  • Teknik Kapal Penangkap Ikan
  • Nautika Kapal Niaga
  • Teknika Kapal Niaga
  • Akuntansi
  • Perbankan
  • Busana Butik
  • Rekayasa Perangkat Lunak

sejarah buah durian

/ 1 Comment
ASAL USUL NAMA DURIAN 

Apa arti sebuah nama, demikian ucapan yang sering kita dengar mengambil dari seorang pujangga dunia Shakespare. Walaupun hanya sebuah nama, ternyata nama memberi arti penting bagi setiap etnis yang hidup di sekitar sentra durian. Demikian penting arti sebuah nama bagi durian, tidak hanya memberi atribut yang menggambarkan kualitas dan performance dari durian kebanggaannya, bahkan menggambarkan harapan bagi si pemilik durian.
Lima tahun yang lalu ketika saya eksplorasi durian di Banten, seorang penunjuk jalan menceritakan bagaimana pentingnya memberi nama pada setiap pohon durian bagi etnis setempat. Kalau kita ingin memiliki durian yang berkualitas, kita harus member nama durian kita, kata beliau berikutnya. Saya fikir ini agak terbalik dari pemahaman saya bahwa durian yang baik akan diberi nama untuk memudahkan menyebutnya. Beliau melanjutkan ceritanya lagi, etnis banten memberi nama pada durian sesuai dengan hal-hal yang dialami pada saat akan memberi nama. Sebagai contoh ketika akan memberi nama melihat ada pesawat melintas, maka diberi nama durian Kapal, bila yang dilihat anak gadis yang cantik maka duriannya diberi nama durian Geulis. Ada pula durian Potret, karena si pemilik melihat seorang wisatawan memotret duriannya.
Tidak jauh berbeda cara memberi nama durian di etnis Minangkabau. Kebanyakan memberi nama sesuai lingkungan tempat tumbuh tanaman seperti durian Parak Kopi karena tumbuh di kebun kopi (parak=kebun), durian Lereng atau Tebing karena tumbuh di lereng bukit dan tebing. Sehingga kita akan menemui tanaman yang berbeda dengan nama yang sama karena tumbuh di lingkungan yang sejenis. Ada juga memberi nama untuk menghargai nama atau gelar leluhurnya seperti contoh durian Lenggang Kamang atau durian Datuk Sati. Juga nama berdasarkan kejadian yang unik seperti durian Sahalai Sarawa (=selembar celana) karena harga satu durian cukup untuk ditukar dengan sebuah celana. Dan orang lainpun yang memiliki durian yang bagus dan berukuran besar akan member nama sahalai sarawa dengan harapan dapat dijual semahal yang aslinya. Tidak beda pula mereka juga memberi nama berdasarkan tampilan buah miliknya, contohnya durian Taba (=tebal) karena berdaging tebal, durian Kampih (=kempes) karena memiliki biji kempes, dll.
Memberi nama berdasarkan bentuk dan tampilan buah sangat umum di Sumatera Selatan, sehingga banyak sekali disini yang diberi nama durian Tembaga karena warnanya yang kuning tembaga, Kepala Rusa karena berbentuk seperti kepala rusa. Dan yang paling umum adalah durian Bantal, karena ternyata banyak sekali durian yang memiliki bentuk seperti bantal bulat lonjong. Sedangkan yang paling terkenal dari bentuk bantal adalah durian Bantal mas dari Muara Enim. Ada lagi nama yang sangat populer yang menunjukkan atribut ukuran yang besar yaitu durian Bakul, karena dalam satu bakul, keranjang yang dipakai untuk membawa durian, hanya dapat terisi satu atau dua saja, sehingga diumpamakan besarnya seperti bakul.
Tidak jauh berbeda penduduk Sumatera Utara, mereka member nama durian berdasarkan bentuk dan warna daging buah. Durian yang unggul di daerah ini tidak jauh namanya dari durian Emas, yang menggambaran atribut warna daging buah yang keemasan dengan rasa yang pulen. Juga durian jantung yang memiliki bentuk seperti jantung, yang dianggap durian yang paling baik mutunya. Dan nama-nama lain yang menggambarkan atribut buah seperti Kucing Titun karena bentuknya yang seperti kucing tidur. Mengingatkan kita pada nama yang mirip di Madura yaitu durian Se Koceng (=Si kucing).
Lain ladang-lain belalang, lain tempat lain pula cara memberi nama durian. Etnis Dayak di Katingan, Kalimantan Tengah memberi nama durian kebanyakan berhubungan dengan bentuk daging durian dalam satu juring yang mirip udang tidur yang biasa mereka tangkap dari sungai. Dengan bentuk melengkung dengan ruas-ruas pongge dan warnanya yang kuning mirip sekali dengan udang sungai yang masak. Tak heran banyak sekali nama durian Udang, Undang atau Otak undang disetiap tempat di daerah ini. Disamping nama yang biasa diberikan seperti durian Emas untuk durian yang kuning tua dan durian Belunek untuk durian yang berdaging tebal dan lunak.
Sedangkan di Kalimantan Timur, pemberian nama didominasi dengan nama daerah dimana durian tumbuh. Contohnya adalah durian Selisun yang tumbuh di kampung Selisun, durian Aji Kuning berasal dari desa Aji Kuning. Demikian juga durian Lae Mahakam yang berasal dari tepi sungai Mahakam, dll.
Bagi penduduk Papua sangat tabu memberi nama durian dengan nama pemiliknya. Karena mereka berpendapat bahwa tanaman adalah pemberian alam untuk manusia, sehingga tidak selayaknya member nama dengan nama pemiliknya. Bila ini dilakukan seolah-olah mau menguasai pemberian alam. Umumnya mereka member nama sesuai dengan atribut yang ditampilkan buah, sebagai contoh yang paling umum adalah durian Mentega karena memiliki warna daging yang kuning dan lembut berlemak seperti mentega. Durian susu yang memiliki warna putih susu dengan rasa yang gurih dan creamy. Ada durian Gajah yang berukuran besar, durian Juring Panjang yang memiliki bentuk buah lonjong, dan durian Duri Panjang karena berduri lebih panjang dari rata-rata durian yang lain. Ada juga durian Krakbum, karena duriannya besar, kalau jatuh mengeluarkan suara krak ketika diatas dan bunyi bum ketika mengenai tanah. Ini juga mengingatkan nama durian dari kalteng Gantar Bumi yang bila jatuh menggetarkan bumi karena ukurannya yang besar.